Panduan Self-Healing bagi Penyintas Kekerasan Seksual

Logo BeraniBersuara
Panduan Self-Healing bagi Penyintas Kekerasan Seksual
Digital art by Anonymous

Mengalami kekerasan seksual adalah peristiwa traumatis yang dapat mengguncang seluruh aspek hidup seseorang. Dampaknya tidak hanya terasa secara fisik, tetapi juga meninggalkan luka batin yang mendalam, mulai dari rasa cemas berkepanjangan, menyalahkan diri sendiri (self-blame), hingga penurunan rasa percaya diri (Sanga dkk., 2024).

Bagi para penyintas, jalan menuju pulih sering kali terasa sunyi dan melelahkan. Namun, terdapat satu hal penting yang harus selalu diingat yaitu, apa yang terjadi sama sekali bukan salah Anda, dan Anda berhak mendapatkan kedamaian hidup kembali. Salah satu langkah awal untuk berjalan ke arah pemulihan adalah melalui proses self-healing atau penyembuhan diri.

Bagi masyarakat awam, istilah self-healing sering kali disalahartikan sebagai liburan atau berbelanja barang mewah. Padahal, makna sebenarnya jauh lebih mendalam. Self-healing adalah sebuah metode penyembuhan dengan cara mengeluarkan perasaan dan emosi yang terpendam dari dalam tubuh (Ardini dkk., ). Menurut Redho dkk (2019) self-healing juga merupakan latihan singkat secara mandiri sekitar 15-20 menit dan dianjurkan dilakukan dua kali dalam sehari.

Terdapat beberapa teknik sederhana dan aman yang bisa diterapkan secara mandiri untuk melakukan self-healing:

  • Gunakan teknik grounding (Metode 5-4-3-2-1) Saat ingatan buruk (flashback) memicu kepanikan, segera fokus pada panca indra. Sebutkan 5 benda yang dilihat, 4 hal yang disentuh, 3 suara didengar, 2 aroma dicium, dan 1 rasa di lidah. Teknik ini membantu otak menyadari bahwa Anda aman di masa sekarang.
  • Latihan napas perut (deep breathing) Letakkan satu tangan di dada dan satu di perut. Tarik napas dalam melalui hidung hingga perut mengembang, tahan tiga detik, lalu hembuskan perlahan lewat mulut. Cara ini menjadi tombol darurat alami untuk menenangkan saraf yang tegang.
  • Menulis (journaling) Tuangkan seluruh kemarahan, kesedihan, atau ketakutan ke dalam kertas tanpa memedulikan kerapian tulisan. Studi psikologi membuktikan metode ini efektif mengeluarkan emosi negatif yang terpendam (katarsis).
  • Tarik batasan diri yang tegas (boundaries) Anda memegang kendali penuh atas hidup Anda. Jangan ragu berkata "tidak" pada obrolan, tontonan, atau lingkungan yang membuat Anda tidak nyaman atau memicu kembali trauma lama.



Menyembuhkan luka batin adalah sebuah perjalanan yang panjang, bukan perlombaan yang harus selesai dalam semalam. Ambil langkah sekecil apapun setiap harinya. Anda berharga, Anda tidak sendirian, dan masa depan yang tenang masih membentang luas di depan Anda.




Jika Anda atau kerabat Anda membutuhkan bantuan penanganan trauma, pendampingan psikologis, maupun perlindungan hukum terkait kekerasan seksual, silakan hubungi:
  • Layanan Sahabat Perempuan dan Anak (SAPA) KemenPPPA: Telepon ke nomor 129 atau WhatsApp ke 08111-129-129.
  • LBH APIK Indonesia: Menyediakan layanan konsultasi hukum dan psikologis bagi korban kekerasan.



Referensi

  • Ardini, F. M., Widiatmoko, M., Nurdiana, S., & Saminah, M. (2023). Pengembangan Metode Journaling Sebagai Sarana Self Healing Pada Mahasiswa UNMA Banten, 24–32.
  • Redho, A., Sofiani, Y., & Warongan, AW. (2019). Pengaruh self healing terhadap penurunan skala nyeri pasien post Op. Journal of Telenursing (JOTING), 1(1), 205–214.
  • Sanga, V. A. P., Wulandari, A., Nurhaliza, S., & Bangun, M. F. A. (2024). Pengaruh Self-Compassion Terhadap Proses Penyembuhan Emosional Pada Remaja Korban Pelecehan Seksual. Jurnal Penelitian Multidisiplin Terpadu, 8(6), 593–596.