Kenapa Baru Cerita Sekarang

Logo BeraniBersuara
Kenapa Baru Cerita Sekarang
Digital art by Anonymous

"Kenapa Baru Cerita Sekarang?"
Pertanyaan yang Sering Menyakiti Korban

Ketika kasus kekerasan seksual terungkap, tidak jarang muncul pertanyaan seperti, "Kalau memang benar terjadi, kenapa baru cerita sekarang?" atau "Kenapa tidak langsung melapor?" Sekilas pertanyaan tersebut mungkin terdengar wajar. Namun bagi banyak penyintas, pertanyaan ini justru dapat terasa menyakitkan karena mengabaikan kompleksitas pengalaman trauma yang mereka alami.

Setelah mengalami kekerasan seksual, korban sering kali mengalami berbagai reaksi emosional, seperti takut, malu, bingung, marah, hingga merasa bersalah. Dalam kondisi tersebut, tidak semua korban mampu langsung menceritakan apa yang terjadi. Banyak penyintas membutuhkan waktu untuk memahami pengalaman yang dialaminya, menerima kenyataan yang terjadi, dan mengumpulkan keberanian untuk berbicara (Wulandari & Saefudin, 2024).

Selain itu, korban sering dihantui ketakutan akan respons lingkungan. Mereka khawatir tidak dipercaya, disalahkan, dianggap melebih-lebihkan kejadian, atau bahkan mendapatkan stigma negatif dari orang-orang di sekitarnya. Penelitian mengenai manajemen privasi komunikasi pada perempuan korban kekerasan seksual menunjukkan bahwa kekhawatiran terhadap penilaian sosial dan budaya victim blaming menjadi alasan utama korban memilih untuk menyimpan pengalaman mereka dalam waktu yang lama (Lewi & H., 2024).

Bagi sebagian korban, diam bukanlah tanda bahwa peristiwa tersebut tidak terjadi. Diam sering kali menjadi cara untuk bertahan dan melindungi diri dari rasa sakit yang lebih besar. Ketika lingkungan belum dirasa aman, korban cenderung menunda pengungkapan pengalaman traumatisnya sampai mereka merasa siap atau menemukan orang yang dapat dipercaya.

Oleh karena itu, alih-alih bertanya “Kenapa baru cerita sekarang?”, kita dapat mulai dengan mendengarkan dan memberikan dukungan. Dibutuhkan keberanian yang besar bagi korban untuk menceritakan pengalaman yang selama ini mereka simpan. Saat seseorang akhirnya memilih untuk berbicara, hal terpenting yang dapat kita lakukan adalah menunjukkan empati, bukan keraguan.

Karena pada akhirnya, yang perlu dipertanyakan bukanlah mengapa korban baru bercerita sekarang, melainkan mengapa mereka merasa tidak aman untuk bercerita sejak awal.

Referensi

  • Lewi, O., & H., B. R. A. (2024). Manajemen privasi komunikasi perempuan korban kekerasan seksual. Jurnal Komunikasi Pemberdayaan, 3(1), 1–14.
  • Wulandari, Y. A., & Saefudin, Y. (2024). Dampak psikologis dan sosial pada korban kekerasan seksual: Perspektif viktimologi. Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran, 7(1), 5805–5812.